serpihan kaca di senja hari

                Diantara ribuan rumah di Yogyakarta, rumah gadis itu terletak di pinggir jalan raya yang tak begitu besar. Dan dengan keinginan untuk menjadi sempurna, ia memilih kamar kos-kosan di lantai dua. Rumah tua seperti pada umumnya, namun ia berhasil menyulap kamarnya menjadi tempat kediaman yang nyaman ditempati. Warna Ungu- kesukaannya, ada hiburan dengan ada PC dan karpet biru. Dulu ia suka warna biru- tepatnya biru langit. Namun kini ia lebih suka warna Ungu- baginya, Ungu lambang kemandirian, anggun dan misterius. Seperti dirinya… namun ada sebagian orang yang tak menganggapnya begitu. Tampaknya hanya orang-orang tertentu yang mencuri kunci hatinya.

                Disha udah terbiasa dengan suara kendaraan yang lalu lalang di jalan raya, suara TV sebelah kamar kosnya dan suara teman-temannya yang bercengkrama. Ia hanya diam di kamar kosnya dengan ditemani kucing kesayangannya. Seperti cewek pada umumnya, ia menikmati hidupnya yang tak sempurna, namun seperti saat ini, ia ingin membuat karya yang sempurna. Karyanya sendiri yang mungkin merupakan pengalaman hidupnya.

                Dengan cekatan ia mengambil kertas berukuran A3 dan segera mengambil pensil dan melukis, hobinya sejak ia menginjak usia tujuh tahun, awalnya Ia melukis barang-barang di sekitarnya, kemudian orang-orang yang dikenalnya, lama-lama ia melukis sebuah peristiwa yang ada dalam pikirannya. Seseorang yang belum ada atau suatu moment yang pernah ia lewati.

                Lukisannya telah membentuk suatu tempat, ia berusaha menyempurnakannya. Semua tugas-tugas mata kuliahnya belum ia kerjakan demi menuruti hobinya itu. Tergambar suatu laut yang biru, terbayang seorang pria dan wanita bergandengan menyusuri pantai. Ada gumpalan angin laut yang menggoyangkan rambut pria dan wanita itu. Dan angin yang lain membawa pasir pantai beterbangan… memasuki dimensi waktu yang pekat. Dan hanya ada kegelapan dalam kejelasan mata.

 

                “kamu masih inget nggak pertemuan pertama kita di Mall Ambarukmo Plaza?” Ricky menatap jernih ke dalam mata gadis di depannya.

                Sambil jaga image gadis yang berambut cokelat tersebut mengangguk, “kenapa memangnya?” tanyanya sambil menahan dingin menjemput angin malam.

                “aku udah tertarik ma kamu, kamu cewek yang smart and kayaknya ada sesuatu gitu di dalam dirimu yang membuat aku penasaran”

                Lily menatap cowok jangkung di depannya sambil tersenyum, “aku kira kamu suka ma temenku, kamu khan deketnya ma dia” lily tertawa.

                “aku deketin dia biar tau nomer kamu, dan kamu tuch cuek banget ma aku” Ricky memalingkan mukanya ke laut yang warnanya semakin memudar.

                “hmm, yang penting- sekarang khan aku udah nggak cuek lagi” lily tersenyum. Ia senang jika dirinya berarti di mata temen-temen cowoknya.

                “kalau boleh tau kenapa?” tanya Ricky lagi.

                “nggak apa-apa, aku suka aja cowok yang nggak pantang menyerah kayak kamu hehe”  padahal, dalam hati lily- iseng aja sich, nggak ada kerjaan.

                “jadi, kamu mau nggak jadi pacarku, ly? Udah lama nich aku suka ma kamu”

                Meski senang, seperti kebiasaan lily, gadis itu tak langsung mengiyakan ajakan Ricky untuk berpacaran.

                “oke deh kalau gitu, tapi aku boleh tau alasan kamu, nggak?”

                “aku pengen mikirin dulu, lagian- aku baru putus, Rick. Aku nggak bisa secepat itu jadian ma cowok” lily berbohong.

                “oke, aku tunggu deh”

                Tiba-tiba lily berteriak, ia mengelus-elus kakinya.

                “kenapa, ly?” Ricky melihat ada bercak darah di jemari kakinya.

                “aduh, salah aku nich. Nggak pake sendal… tapi apa ya yang ngelukain kakiku?”

                Ricky berlutut dan menghilangkan darah di kaki lily, dan di bawah kaki lily, ia melihat sebuah kaca.

                “ya ampun!!!, siapa sih yang naruh kaca di pasir kayak gini!!!” lily marah.

                “bahaya banget, nih!!!” hampir Ricky membuang pecahan kaca itu ke laut- tiba-tiba ia kaget ada kakek-kakek yang muncul dan berteriak padanya.

                Ricky dan lily memandang kakek tersebut dengan ketakutan.

                “jangan takut, kakek adalah pedagang yang selalu berjualan di pantai ini. Kaca yang kau temukan itu adalah kaca legenda. Kata orang… jika pecahan kaca yang berbentuk bulan sabit itu ditemukan oleh pasangan sahabat, maka persahabatan mereka akan awet sepanjang masa. Dan apabila yang menemukan adalah sepasang orang yang saling mencintai- maka cinta mereka akan berubah menjadi air mata kehancuran” setelah menyelesaikan kalimatnya- kakek yang memakai topi tersebut tersenyum sinis.

                Ricky dan lily saling berpandangan, dan ricky mau bertanya pada kakek tersebut tapi kakek itu udah nggak ada.

                “Rick!!!, aku takut nich!!!. Kita pulang aja yuk…!!” lily menarik-narik tangan Ricky.

                “oke”, sebenarnya Ricky juga takut, tapi peristiwa tersebut sungguh nggak masuk akal. Tapi ia berusaha berfikir positif…

                “Rick, aku bobo tempat kamu aja, ya!!. Aku nggak berani bobo sendiri. Kalau misalnya kakek itu dateng ke tempatku, gimana?” pinta Lily dalam perjalanan pulang.

                Ricky mengendarai mobilnya dengan kencang, “oke ly, aku akan jaga kamu” namun, terbersit ide jahat dalam pikiran Ricky. Ini adalah kesempatan yang dapat ia raih, gadis itu baru sekali jalan dengan Ricky. Akhirnya, lily menginap di kontrakannya Ricky.

                “aku bobo duluan ya, Rick. Soalnya kepalaku pusing banget nich… agak nggak enak badan” lily rasanya ingin muntah.

                “oh iya, aku nggak bobo dech. Aku udah biasa bobo pagi… jadi kamu santai aja di tempatku”

                Malam itu, lily nggak bisa tidur. Meskipun Ricky ada di dekatnya. Namun, pusingnya telah berkurang. Ricky menyanyikan sebuah lagu dengan gitarnya, dan lambat-lambat, lilypun tertidur juga. Dan lily terbangun untuk beberapa saat, ia bermimpi buruk. Ricky masih menjaganya.

                “ly, aku udah ngantuk nich. Aku boleh bobo di samping kamu?” ricky menguap.

                “oh, ya” lily menggeser tubuhnya sampai ke pinggir tempat tidur.

                “jangan terlalu pinggir, ntar jatuh, lho” Ricky menarik tangan Lily.

                Lily menepis tangan Ricky, namun- lambat-lambat ia merasa nyaman di samping pemuda itu, Ricky begitu menyayanginya.

 

                Disha menghentikan lukisannya, jam telah menunjukkan pukul 23.55. pintu kamarnya masih terbuka. Ia bete melihat kamarnya berantakan, liao- kucing berwarna putih oranye itu menjatuhkan barang-barang yang ada di mejanya. Ia segera menutup pintu dan mencari kucingnya- ternyata liao berbaring di dekat pintu kamar mandi. Ia takut liao hilang lagi- tampaknya kucing yang berumur satu tahun itu senang jalan-jalan. Dan disha bisa panik setengah mati mencari liao.

Gadis pucat itu memandang lukisannya yang telah jadi, ia tak tahu melukis pantai apa. Ia bahkan tak tahu siapa yang dilukisnya… karena itulah ia bingung memberi judul lukisannya. Akhirnya tertulis Twilight MIRROR.

Padahal tak ada bulan dalam lukisannya, kaca juga. Ia terkadang suka asal- asal yang baginya karya seni. Ia terbatu-batuk lagi. Belakangan cuaca membuat kondisi tubuhnya gampang terserang penyakit. Tak ada yang memperhatikannya kecuali Nando dan teman kosnya- Lina. Nando bukan pacarnya, tapi seseorang yang selalu menyediakan waktu untuknya meskipun gadis itu tak membutuhkannya. Namun mungkin besok Ia akan membalas perasaan pemuda itu, karena Cinta agaknya terlalu rumit untuknya.

Sebenarnya, ia harus bobo cepat. Karena besok pagi- ia harus menjemput Stevia di bandara. Stevia adalah teman kampus Disha, dan tentunya Ia meminta pertolongan Nando untuk kesekian kalinya. Alarmnya telah berbunyi, besok Nando akan membangunkannya, Disha juga udah meminta Stevia untuk membangunkannya. Namun tetap saja, ia belum mewarnai lukisannya. Ia juga belum mengerjakan tugas kuliahnya.

Begitu selesai mewarnai lukisannya, stevia mengerjakan tugas-tugasnya dan tidur di kasur springbednya. Dadanya sakit lagi, akhir-akhir ini dadanya sering sakit. Tapi disha nggak pernah memeriksakan ke dokter- jika Nando tau- pemuda itu pasti sangat khawatir padanya. Nando mengingatkannya akan Nico, Nico telah berkorban banyak untuk gadis itu. Namun disha telah mengecewakannya- hingga penyesalan bukan makanan primer lagi untuk dikonsumsi. Nando dan nico berasal dari suku yang sama. Tapi kita stop membicarakan masa lalu. Karena disha bermimpi aneh lagi… tentang lukisan-lukisannya…

 

“lily, bangun. Udah pagi lohh” ricky melirik lily yang mengolet masih tak rela bangun dari kasur Ricky.

“ya ampun!!!, aku ada kuliah pagi ini…!” lily kaget.

“udah, nggak usah masuk aja” ricky tersenyum simpul.

“jam berapa sekarang?” penampilan gadis itu berantakan, lily malu sama Ricky.

“jam 10 nich, mau sarapan, nggak?”

“belum laper, tapi boleh deh” jawab lily lemas.

“oke, bentar ya” rickypun pergi.

Lily melihat poster-poster di kamar Ricky- seperti cowok pada umumnya, Ricky suka sepak bola. Dan Ia penggemar Milan yang fanatik… bahkan… Ricky pernah cerita bahwa ia lebih mencintai Milan ketimbang cewek. Sepertinya pemuda itu cowok yang setia- bagi lily.

Setelah Ricky pulang, mereka nonton bareng sambil nonton film. Dan ricky membantu tugas-tugas Lily. Bersama Ricky- lily telah melupakan peristiwa saat twilight di pantai. Ricky juga cowok yang lucu- ia dapat membuat lily tertawa dan hanyut. Namun, gadis itu kaget. Ricky memaksa untuk menciumnya.

“eh ky, anterin aku pulang yuk. Nggak kerasa… udah sore nih”

Ricky terdiam, “silahkan kalau mau pulang”

Lily sebal setengah mati dengan pemuda tersebut, namun ia tak dapat memberitahu pada teman-temannya. Namun- ricky tak berhasil menjahati lily. Gadis itu selalu menjaga dirinya- tapi di sisi lain ia sangat menyukai Ricky.

“Ricky, I’m sorry” ia berkata sangat menyesal. Dan lily tahu cowok itu kecewa, dan lambat ia tahu bahwa Ricky bukan cowok yang baik. Meskipun Ricky selalu menggombalinya, lily tak percaya lagi dengan pemuda itu. Ia berusaha melupakan Ricky.

 

Begitu disha bangun, tangannya telah berlumuran darah. Ia memegang pecahan kaca… ia nggak tahu kenapa ada pecahan kaca begitu ia terbangun. Apakah ia penderita sleep walker?… seingat dia mimpinya juga nggak aneh-aneh. Hanya mimpi seorang gadis yang tak ingin memaafkan seorang pria. Ia seperti kenal dengan gadis itu, tapi ia tak kenal dengan pria dalam mimpinya. Tunggu!!! Rambut pria itu persis pria di dalam lukisannya, ia melihat kembali lukisannya. Ia lantas membuang pecahan kaca tersebut. Disha takut sekali…

Tiba-tiba hpnya berbunyi, ada sms masuk. Ia membukanya- dari pacarnya, Andi.

“met pagi say, gimana lukisan kamu?”

Ia lupa menunjukkan lukisannya pada Andi. Andi nggak begitu suka lukisan disha, karena itu disha mencoba melukis tema kesukaan andi. Tentang alam… dan tentang cinta. Tapi disha ingin menunjukkan pada pria itu bahwa ia bisa melukis!! Bahkan tentang tema yang belum pernah ia lukis.

Disha membalas pesan Andi, yang disha sesalkan. IA SELALU MEMBALAS PESAN ANDI. Mungkin karena cinta- padahal jelas-jelas pria berbintang scorpio itu nggak peduli padanya. Disha Cuma berharap ada keajaiban yang bisa membuat disha melupakan Andi.

Kemudian disha cepat-cepat membersihkan dirinya, kasihan Stevia kalau menunggu dirinya terlalu lama. Namun, ketika cewek yang berkulit mulus itu selesai mandi, ia hampir menginjak pecahan kaca yang tadi. Kenapa kaca itu bisa ada di lantai kamar mandinya? Padahal tadi ia melemparkan kaca tersebut di lantai kamarnya. Ia menghindari pecahan kaca misterius itu dan mencari lukisannya.

Gara-gara lukisanku, aku bermimpi aneh. Bahkan aku bangun dalam keadaan kaca itu ada di tanganku…! sekarang kaca sial itu ada di kamar mandiku!!!. Disha langsung mengambil lukisannya dan merobek-robek lukisan itu. Tiba-tiba entah kenapa tubuhnya sakit sekali, dan tiba-tiba lampu mati. Enggak, lampu nggak mati. Karena ada tiga pintu di depannya… seingatnya dan ia sangat yakin bahwa di kamarnya hanya ada dua pintu… yaitu pintu kamar mandi dan pintu kamarnya!!!. Itupun letaknya tidak berjejer!!!. Tapi disha takut sekali dengan kegelapan- ia masih terbayang-bayang kaca menyeramkan itu. Jadi dia langsung masuk ke pintu yang berada di urutan paling kiri!!. Secepat kilat dan sinar kemudian menghantamnya!!.

Ia berada di kamarnya sendiri, namun keadaan tak sama dengan kamarnya yang semula. Belum ada bunga mawar dari Andi yang ditaruh di vas bunga kamarnya. Apa… ia berada dalam masa lalu? Sebelum ia kenal dengan andi?…

Ada suara langkah kaki, iapun bersembunyi di dalam kamarnya sendiri.

Ada yang membuka pintu kamarnya, tadinya yang sepi jadi seperti ada kehidupan di kamar itu. Tiba-tiba nggak ada suara, membuat disha ingin mengintip dari sela-sela lemarinya sendiri!!. Ya Tuhan!!!… apa yang terjadi padanya sebenarnya?!

Ia melihat ada seorang gadis yang sedang tiduran di kasurnya, gadis itu juga memakai pakaiannya. Disha merasa jengkel sekali namun tiba-tiba hp gadis itu berbunyi. Dan disha memperhatikan gadis yang membuat disha merasa melihat hantu itu tersenyum sendiri. Gadis itu dirinya…!!.

Gadis itu menarikan jemarinya di hp tersebut, disha menatapnya takjub. Tak percaya apa yang terjadi.

Kemudian kembaran dishapun berjalan ke arah lemari, disha terkesiap!!. Tapi untungnya gadis itu hanya berdiri di depan cermin. Disha seolah ingat peristiwa ini… ini peristiwa sebelum dirinya bertemu dengan Ricky untuk kedua kalinya!!!. Ternyata benar, memang ada hubungannya dengan lukisan dan mimpinya… juga tentang kaca itu… disha tak dapat bergerak dan tanpa ia sadari, kembarannya telah menghilang.

Oh tidak…!!!, ia tak dapat membiarkan ini terjadi!!!. Ia mengintip dari balkon kamarnya, kembaran disha membukakan pintu gerbang untuk bertemu Ricky. Ia ingat betul perasaannya saat itu, dulu ia sangat mencintai Ricky. Tapi ia bingung… bagaimana kalau ia bertemu dengan dirinya yang berada di masa lalu?… dan apakah ia bisa merubah masa lalu?

Disha berusaha mengingat-ingat kejadian setelah itu, besoknya- tepatnya ketika lebaran- ricky mengajaknya bertemu. Dan dia dengan senang hati mengiyakan ajakannya Ricky!!. Ini nggak bisa dibiarkan!!!. Ricky adalah cowok yang jahat!!!. Namun suara langkah kaki menuju ke kamarnya dan disha bersembunyi lagi. Ia tahu disha yang di masa lalu sedang sibuk-sibuknya mengerjakan tugas kuliahnya. Namun dia menyempatkan diri bertemu dengan Ricky. Lily… disha… lilydisha melodypuspita adalah namanya. Nama kecilnya adalah lily… dan sekarang semua orang memanggilnya disha kecuali keluarga terdekatnya. Ternyata ia memaksa dirinya untuk melupakan masa lalunya yang pahit. Bahkan tentang dirinya di masa lalu. Kalau begitu… biarlah takdir berjalan dengan semstinya. Ia tak ingin merubahnya. Yang jelas di masa sekarangnya disha tahu, bahwa Ricky adalah cowok yang nggak pantas untuk disha cintai. Namun ia bingung bagaimana caranya kembali ke pintu yang mengantarkannya tadi…

Dan puji Tuhan ia melihat pecahan kaca yang menjadi legendanya, ia yakin kaca tersebut mampu mengantarkannya pulang. Sebelum ia menyentuh kaca itu… disha berbisik ke dirinya yang masa lalu…

“lily, kebodohan membuatmu belajar untuk jadi pintar. Membuatmu lebih berhati-hati dalam melangkah… dan kau harus yakin… di dunia ini tak seputih yang kamu bayangkan dan tak sehitam yang kamu bayangkan. Akan selalu ada hitam dan putih. Buruk dan baik, negatif dan positif. Kamu pasti bisa meninggalkan dia, kok. Karena aku… masa depanmu. Jangan menyalahkan takdir- Tuhan memperkenalkanmu padanya untuk lebih dewasa. Semua telah diatur- agar tak ada yang menjahatimu lagi” dan disha mengambil pecahan kaca itu. Dan tubuhnya seakan ditarik menuju ke tiga pintu yang tadi membawanya ke masa lalu.

Pintu kedua pastilah masa sekarang. Biarlah masa depan menjadi misterinya- itu pasti yang terbaik. Dan disha membuka pintu ke dua…

 

Seperti senin yang lalu-lalu- disha masuk kuliah jam 10.00, karena lukisannya, pecahan kaca dan masa lalunya membuat disha kepikiran. Ia bingung akan dengan siapa dirinya, ia tak mau salah memilih cowok untuk ke dua kalinya. Meskipun andi tak sejahat Ricky, tapi tetap saja. Ia berada dalam kebimbangan apakah Andi mencintainya atau tidak. Disha tak mau egois, namun- belum tentu nando juga lebih baik dari andi. Mungkin disha lebih baik let it flow aja… namun terbesit di benaknya untuk tahu masa depannya dengan andi. Dan apa yang terjadi padanya.

Untuk itu setelah pulang kuliah ia cepat-cepat pulang ke kosnya dan mencari pecahan kaca itu. Namun yang ada hanya lukisannya yang sudah lusuh di lantai kamarnya… ia memperbaiki lukisannya dan menaruhnya di tempat yang semula.

Ia bingung mengapa ia berada di pantai- sepertinya pantai yang pernah ia kunjungi dengan ricky.

Tiba-tiba, tepukan di pundaknya membuat ia tegang, ia menoleh dan melihat kakek-kakek yang membuat dirinya takut dulu.

“kau memang benar-benar pelupa, aku khan sudah bilang kalau kau terlalu banyak menggunakan pecahan kaca itu- maka iblis akan membawamu ke alamnya”.

“tapi- apa salahku? Kaca itu membawaku sendiri ke masa lalu. Aku nggak ngerti… siapa kakek sebenarnya?! Kenapa kakek tahu semua tentang ini?!” suaraku tak dapat dikontrol.

“kakek sama sepertimu dulu, kakek dulu ke pantai ini dengan isteri kakek. Namun sepertinya iblis telah memilih orang-orang yang berhati setan… sehingga membuat kita seperti ini. Dan kau juga akan seperti aku… gentayangan di pantai ini dan memperingati orang-orang yang terkena kutukan kaca itu!!! Hahaha”

“tunggu!!!, hati setan?! Aku tak punya hati yang seperti itu!!!” disha memprotes.

“kau bisa menghidupkan jiwa baru, bahkan pribadi yang tak kau kenali… lily dan disha… adalah dua tubuh yang mirip. Sebelum lily dijahati oleh cowok itu… jiwa setanmu sudah menginginkannya!!!. Aku tahu jiwa jahatmu yang membuatmu lebih kuat… semua itu ada dalam pikiranmu!!! Hahaha. Karena itu… hati-hati dengan sebuah pikiran!! Alam ini akan mendengar apa yang angin sampaikan dari pikiranmu”

Disha tercekat, ya. Ia memang gadis yang tak sempurna, ia memang tak puas dengan hidupnya- dirinya, ia memang tak mampu melakukan pikiran jahatnya. Tapi setan mewujudkannya.

Ia jatuh di pasir, menangis. Dan ia tak perduli kakek itu telah menghilang. Tapi ia tak mau berakhir di sini- seperti kakek itu. Ia harus kembali…

Ya Tuhan, aku takkan melakukannya lagi. Meskipun takdir membawaku padanya… aku janji akan mengontrol pikiranku agar ia tak menjerumuskanku…

Tiba-tiba kepala disha pusing sekali- ia merasakan ada serpihan kaca di tangannya. Yang membawanya kembali ke kamarnya… udara jadi panas sekali. Tak ada keinginan lagi untuknya menengok pintu masa depan, baik buruk di hidupnya pastilah sudah menjadi skenario yang di atas. Ia hanya ingin kembali pada kesucian… dan yang pasti… ia nggak ingin menjadi arwah penasaran seperti kakek di pantai itu.

Masih ada mimpi… dan masa depan yang indah yang menari-nari di pikirannya. Pastinya, ia ingin berfikir positif tentang semua hal tapi tetap berhati-hati dalam menjaga pergaulan.

Dan di masa depannya ia yakin lukisannya tak menyimpan kemisteriusan dari sebuah goresan luka. Ketiga pintu rahasia itu akan menjadi sebuah fiksi dalam hidup Andi. Ya. Andi akan memfilmkan lukisan-lukisan disha. Ia seorang sutradara. Mereka mewujudkan impian mereka bersama-sama.

                

Iklan

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s